Selasa, 11 Desember 2012

Seminar Nasional dan Sosialisasi Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi


(4/12/2012) Pusat Komputer dan Sistem Informatika (PKSI) UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar nasional dengan tema "Digital Lifestyle Experience for Higher Education". Acara  ini diadakan digedung Convention Hall dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan masyarakat umum. Seminar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy'arie dengan Gong Digital. Menurut Ketua PKSI, Agung Fatmanto, Ph.D., kegiatan ini diadakan sebagai komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam mewudkan kampus digital dan sebagai upaya membangun budaya  digital di perguruan tinggi. “ Di era globalisassi saat ini, perguruan tinggi harus memaksimalkan pengunaan tekhnologi digital, mengingat perkembangan arus informasi yang begitu pesatnya, hal ini sebagai imbas dari kemajuan dunia digital yang terjadi saat ini. Penerapan teknologi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan teknologi komputerisasi bagi seluruh civitas kampus, baik dosen, pegawai dan mahasiswanya, agar menjadi sinergisitas”, tutur Agung Fatmanto yang juga dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam seminar ini menghadirkan Ryan Fabella (Client Software Architec IBM), Pepita Gunawan (Indonesian Google Southeast Asia dan Agung Fatmanto, Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam sambutannya Musa Asyarie menyampaikan bahwa, UIN Sunan Kalijaga akan senantiasa mengembangkan kampus menuju kampus digital, karena, dengan penerapan teknologi digital, semua akses informasi akan menjadi mudah. Perkembangan teknologi yang begitu pesat seharusnya kita manfaatkan dan direspons secara positif, jangan sampe dengan perkembangan itu kita malah menjadi keblinger. “ Saat ini kita sudah dikuasai oleh dunia ‘kotak’, karena sebagian besar alat teknologi yang kita gunakan berbentuk kotak, PC, Monitor, PC Tablet, HP, Laptop semuanya berbentuk kotak. Melihat hal ini, kita jangan sampai dikotak-kotakkan oleh barang ‘kotak’ ini. Karena dengan barang ‘kotak’ ini individualisme akan semakin meningkat, untuk itu filter dalam penggunaan teknologi di era digital ini sangat penting”, tutur Musa.
“ Dalam acara ini juga dihadiri oleh delegasi PTAIN se-Indonesia dan delegasi pusat komputer Perguruan Tinggi dan civitas Mahasiswa se-DIY ”, tambah Agung. *(Doni Tri W-Humas UIN Suka)http://www.uin-suka.ac.id/berita/dberita/674

Funfsi dan Kedudukan Al-Qur'an


FUNGSI DAN KEDUDUKAN AL QUR’AN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Al Qur’an yang diampu oleh ibu Rohinah

Description: logo-uin-suka-baru-warna.jpg

Disusun Oleh :
Iqbal Syafri                             12410125
Faqih Utsman                          12410126
Nur Afidah                             12410131
Erliana Ceti Dwijayanti          12410092

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Fungsi dan kedudukan AlQur’an dalam Islam guna memenuhi mata kuliah Al Qur’an.
Melihat berbagai macam cabang ilmu Al Qur’an, kami ingin menganalisis permasalahan yang menyangkut fungsi dan kedudukan Al Qur’an. Sehingga kami harapkan makalah ini dapat membantu para pembaca dalam belajar memahami dan menerapkan fungsi dan kedudukan Al Qur’an dan diterapkan pada kehidupan.
Akhir kata , tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali Allah SWT. Tugas karya tulis ini pun diakui masih banyak kekurangan.Akan tetapi kekurangan yang ada tidak hadir untuk dicerca melainkan dicari bagaimana proses penyempurnaannya.Sehubungan dengan hal itu tegur sapa, kritik saran membangun dari segenap pembaca, akan senantiasa kami terima dengan hati yang terbuka.Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

                                                                                                Yogyakarta, 26 November  2012

                                                                                                                     Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Al Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf, dinukilkan kepada kita secara mutawatir, tidak hanya turun sebagai kitab yang dimulai dari surat Al Fatihah dan di akhiri dengan surat An nas.Dan tidak hanya membaca Al Qur’an bernilai ibadah. Tetapi Al Qur’an diturunkan di muka bumi mempunyai fungsi dan kedudukan.
Diharapkan dengan adanya makalah tentang Fungsi dan Kedudukan Al Qur’an ini, mampu menjadi sarana penambah ilmu dalam mengetahui Fungsi dan kedudukan Al Qur’an , dan mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari – hari.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa fungsi Al Qur’an ?
2.      Bagaimana kedudukan Al Qur’an ?

C.    Tujuan
1.      Mendeskripsikan tentang fungsi Al Qur’an.
2.      Mendeskripsikan tentang kedudukan Al Qur’an.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Fungsi Al Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya, dan bernilai abadi, sebagai pembeda (furqan), pemberi peringatan, kabar gembira dan pengobat.
Diantara fungsi Al Qur’an yang terpenting adalah:[1]
1.      Sebagai mukjizat
Mukjizat ialah suatu kejadian luar biasa dan tidak mustahil, yang terjadi pada rosul Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa, beliau benar Rosul-Nya dan dengan izin allah swt. Hal itu di perlukan, karena setiap rosul allah mempunyai mukjizat dan di butuhkan oleh kaumnya.
Umpamanya permintaa  raja Fir’aun Mesir kepada rosul musa kalimulloh. Dalam (surat Al-a’raaf:106).
Demikian pula dalam surat Assyu’araak: 30-31 serta surat Ibrahim:
      Alquran ialah mukjizat rosul SAW ang masih ada sampai kini dn seterusnya. Di antara keistimewaannya adalah:
a.       Keindahan kalimat dan isinya tidak dapat bisa ditiru oleh sastrawan arab manapun, apalagi oleh non arab sampai sekarang. Memang ada orang orientalis barat yang mencela susunan ayat-ayat dan letak kalimatnya, tapi mereka dinilai orang arab tidak menguasai bahasa arab.
Diantara orang arab yang mencoba keindahan ayat-ayat alquran ialah
1). Surat Al-furqon :53-54: dia lah yang mencampurkan air dua laut, ini berair tawar dan segar dan itu asin dan pahit, dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi bercampur.
Dialah yang menciptkan manusia dan air. Di jadikannya berketurunan dan beripar-bian. Ayat ini menceritakan kemampuan allah swt merubah air jadi tulang, daging, rambut, dan lain, sehingga berkembang baik.
2). Dalam surat hamin sajadah : 9-12 Allah menerangkan penciptaan bumi dan tujuh langit: apakah kamu benar-benar kafir kepada pencipta bumi dalam dua putaran dan kamu jadikan baginya sekutu. Itulah yang menyusun semua alam. Dia jadikan baginya sekutu. Itulah yang menyusun semua alam. Atasnya, dia berkahi yang ada padanya, dia ukurkan makanannya dalam empat hari, sesuai bagi semua yang membutuhkannya. Sesudah itu Dia jadikan langit, ia merupakan asap. Lalu Dia perintahkan atasnya dan bagi bumi, “hendaklah kamu patuh, mau atau tidak mau” keduanya menjawab,”kami datang sebagai orang yang patuh”. Lalu di ciptakannya tujuh langit dalam dua putaran. Dia perintahkan pada tiap langit itu urusannya. Kami hiasi langit dunia dengan lampu-lampu dan di pelihara. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.Ayat-ayat ini menceritakan bagaimana terjadinya bumi dan langit dan semua yang berkaitan dengannya, karena murah dan kasih sayangnya Allah kepada manusia dengan perantaraan wahyu-Nya.
b.      Alquran menghadang siapa yang mengatakan, bahwa ia buatan Rasulullah SAW dalam beberapa ayatnya, antara lain dalam :
Surat Albaqarah : 23-24 : andaikata kamu agu-ragu mengenai sebagian yang telah kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka kemukakanlah agar satu surat yang menyerupainya! Ajaklah semua tokoh-tokoh kamu, selain Allah itu, andaikata kamu  memang orang-orang yang benar! Bila kamu tidak dapat melakukannya, maka peliharalah dirimu dari neraka yang kayu apinya ialah manusia dan batu berhala. Ia di sediakan bagi orang-orang kafr”.

c.       Hendaknya kekayaan dunia di gunakan pula untuk keselamatan akhirat, yaitu surat al-qashash :77,
Yang artinya :
Carilah dengan apa yang diberikan allah kepada kamu, untuk hari akhirat dan jangan melupakan nasib kamu di dunia, serta berbuat baiklah, sebagaimana allah telah berbuat baik kepada kamu! Jangan kamu menimbulkan kerusakan di bumi! Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
2.      Sebagai sumber segala macam aturan tentang hukum, sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, moral dan sebagainya, yang harus dijadikan “way of life” bagi seluruh umat manusia untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. (perhatikan Surat Al Ahzab:36).
3.       Sebagai hakim yang diberi wewenang oleh Allah SWT memberikan keputusan terakhir mengenai beberapa masalah yang diperselisihkan dikalangan pemimpin-pemimpin agama dari bermacam-macam agama dan sekaligus sebagai korektor yang mengoreksi kepercayaan-kepercayaan/pandangan-pandangan/anggapan anggapan yang salah dikalangan umat beragama, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang salah, yang terdapat dalam Byble atau kitab lain yang dipandang suci oleh para pemeluknya.
Menurut pandangan Islam bahwa Nabi dan Rosul adalah maksum, artinya mereka pasti terhindar dari melakukan perbuatan yang hina dan tercela seperti berdusta, berzina dan menyembah berhala. (perhatikan surat An Nahl:65-65)
4.      Sebagai pengukuh (penguat) yang mengukuhkan dan menguatkan kebenaran keberadaan para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Hanya saja ajaran-ajaran para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW beserta kitab-kitab sucinya, sudah tidak orisinal lagi, sebab tidak sedikit yang telah diubah oleh para pemimpinya. (perhatikan surat Al Maidah:48; An Nisa:45).[2]
Ada juga Al Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah di dalamnya bukan tanpa punya tujuan dan fungsi. Adapun tujuan kisah dan fungsi dalam Al Qur’an antara lain adalah:[3]
a.       Untuk menunjukkan bukti kerosulan nabi Muhammad SAW. Sebab beliau meski tidak pernah belajar tentang sejarah umat-umat dulu, tapi beliau dapat tau tentang kisah tersebut. Semua itu tidak lain belajar dariwahyu Allah SWT
b.       Untuk dijadikan Uswah Khasanah, suri tauladan bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para nabi dan orang-orang salih yang disebutkan dalam Al Qur’an.
c.        Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad dan umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah SWT dan hancurnya kebatilan (Q.S. Hud: 120).
d.       Mengungkap kebohongan ahli Al Kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni,
e.        Untuk menarik perhatian para pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan kisah.
f.        Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah SWT, yaitu bahwa semua ajaran para rasul intinya adalah Tauhid.

B.     Kedudukan Al Qur’an
Seperti telah kita ketahui bahwa apapun yang di kerjakan, di perintah maupun yang dilarang Allah pasti memiliki maksud dan tujuan. Begitu pula ketika Allah menurunkan Al-qur’an. Al-Qur’an diturunkan sebagai :
1.      Kitab Berita dan khabar
Sebagai kitab berita dan khabar Al-Qur’an banyak berbicara tentang orang-orang terdahulu, baik yang shalih maupun yang thalih. Al-Qur’an berbicara tentang perjuangan para Nabi dan pertolongan Allah atas mereka, agar umat ini mau mengikuti perjuangan mereka. Dan juga menceritakan tentang orang-orang durhaka dan akibat buruk dari kedurhakan mereka.
Al-qur’an bercerita tentang fir’aun dan akibat kekufurannya yaitu di binasakan dan di tenggelamkan di laut merah beserta bala tentaranya. Al-Qur’an juga bercerita tentang Qarun dan Kebakhilannya hingga Allah tenggelamkan diri dan hartanya kedalam bumi, dan masih banyak contoh lainnya.

2.      Kitab Hukum dan Perundang-undangan
Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Qur’an, memuat hukum-hukum dan undang-undang untuk di taati.
Baik hukum amaliah seperti :


a.       Hukum Ibadah
yaitu hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya (hablum minallah, baik ibadah mahdhoh (ibadah yang disyari’atkan dan telah ditetapkan tata caranya oleh Nabi seperti shalat, puasa, haji, dll.) maupun ibadah ghoiru mahdhoh (ibadah secara umum).
b.      Hukum Mu’amalat
Yaitu hukum dan perundang-undangan yang mengatur hubungan antara manusia denngan manusia lainnya (hablum minannas), Hukum mualamat terbagi kepada :
1.      Hukum Ahwal Syaksiyah
Yaitu hukum yang sangat terkait erat dengan pribadi setiap individu muslim sejak di lahirkan hingga wafatnya, seperti nikah, thalaq dll.
2.      Hukum Mu’amalah madaniyah
Yaitu hukum-hukum jual beli, sewa menyewa dll.
3.      Hukum acara
4.       Hukum Internasiona
5.      Hukum Ekonomi/keuangan negara
c.        Hukum Hudud & Jinayah (pidana)
Yaitu hukum yang di syari’atkan dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan.

3.      Kitab Jihad
Secara bahasa jihad artinya bersungguh-sungguh. Sedangkan dalam pengertian syari’at Islam jihad adalah bersungguh-sungguh dalam menegakan kalimat-kalimat Allah dan menghilangkan fitnah terhadap kaummuslimin. Jihad adalah puncak amal islami seorang muslim, setiap muslim memiliki kewajiban untuk berjihad.
Said Hawa dalam bukunya Al-Islam, mengklasifikasi jihad menjadi beberapa macam, yaitu :
1.      Jihad Nafsi /jihad Qital (perang)
Jihad nafsi (jiwa) atau jihad qital (perang) adalah bersungguh-sungguh dalam menegakan kalimat Allah di muka bumi dengan pertaruhan nyawa. Jihad jenis inilah yang nilai pahalanya paling tinggi disisi Allah, karena siapapun yang gugur akan mendapat gelar syahid, gelarnya para penghuni syurga tertinggi. Syahid pula yang menjadi cita-cita tertinggi kaum muslimin dalam berjihad. Para syuhada adalah mereka yang tetap hidup walau jasadnya sudah berkalang tanah.
2.      Jihad Lisani
Yaitu menegakan agama Allah dengan nasehat-nasehat yang baik. Rasulullah SAW. Bersabda
الدين النصيحة
Artinya “ Agama itu adalah nasihat”
3.      Jihad Maal
Yaitu berjihad dengan cara menginfaqan harta demi kemenangan jihad. Hal ini pernah di lakukan oleh para sahabat mulia, Abu Bakar, Utsman, Abdur Rahman bin Auf, yang menginfakkan begitu banyak hartanya untuk memenangkan jihad (perang) di jalan Allah.
4.      Jihad dengan kekuasaan
Jihad dengan kekuasaan/kekuatan sangat mungkin di lakukan oleh mereka yang memiliki otoritas/kekuasaan dalam msyarakat. Seorang ayah wajib berjihad untuk mengislamikan keluarganya, karena ia adalah pemimpin di keluarga. Dan seorang presiden harusnya bertanggung jawa terhadap baik-buruk rakyatnya.
Rasulullah SAW. bersabda : “ Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya”.
5.      Jihad siyasi (politik)
Jihad siyasi adalah jihad yang mungkin dilakukan oleh para anggota dewan baik DPRD maupaun DPR. Jihad yang mereka lakukan adalah membuat undang-undang yang sejalan dengan hukum Allah SWT. Undang-undang yang memudahkan umat Islam melakukan kegiatan-kegiatan keislaman tanpa adanya rasa takut karena intimidasi, terror dan lainnya.
6.      Jihad Tarbawi (pendidikan)
Jihad tarbawi adalah jihad yang diakukan dengan pendidikan dan da’wah islam.


4.      Kitab Tarbiyah
Tarbiyah artinya pendidikan, dan manusia adalah makhluk “paedogogis” yaitu makhluk yang bisa dididik dan bisa mendidik. Dan pendidikan yang benar adalah pendidikan yang dijalankan Rasulullah yang berpedoman pada Al-Qur’an.

5.      Kitab pedoman hidup
Sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada manusia diturunkalah Al-Qur’an sebagai pedoman dan peta untuk perjalanan hidupnya di dunia, jika ia mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an maka ia tak akan pernah tersesat seperti sabda Nabi Muhammad SAW :
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk pada jalan yang amat lurus. (Al-Isrâ (17) ayat 9.

Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat mengeluarkan umat manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi tidak bermoral menjadi memiliki moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah membuktikan hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14) :
“Bahwa sebuah generasi telah terlahir dari da’wah –yaitu generasi sahabat –yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah umat Islam, bahkan dalam sejarah umat manusia secara keseluruhan. Generasi seperti ini tidak muncul kedua kalinya ke atas dunia ini sebagaimana mereka… Meskipun tidak disangkal adanya beberapa individu yang dapat menyamai mereka, namun tidak sama sekali sejumlah besar sebagaimana sahabat dalam satu kurun waktu tertentu, sebagaiamana yang terjadi pada periode awal dari kehidupan da’wah ini…”
Cukuplah kesaksian Rasulullah SAW menjadi bukti kemulyaan mereka, manakala beliau mengatakan dalam sebuah haditsnya:
 “Dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah generasi yang ada pada masaku (para sahabat) , kemudian generasi yang berikutnya (tabi’in), kemudian generasi yang berikutnya lagi (atba’ut tabiin). (HR. Bukhari)”

Imam Nawawi secara jelas mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan ‘generasi
pada masaku’ adalah sahabat Rasulullah SAW. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga mengemukakan mengenai keutamaan sahabat:


Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.Karena sekiranya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya ia tidak akan dapat menyamai keimanan mereka, bahkan menyamai setengahnya pun tidak. (HR. Bukhari).

Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat tiga hal yang melatar belakangi para sahabat sehingga mereka dapat menjadi khairul qurun, yang tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya adalah sebagai berikut: pertama, karena mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber lainnya. Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya. Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh Allah dalam kehidupan mereka. Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.

Dengan ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul sebagai generasi terindah yang pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan karena ‘ketotalitasan’ mereka ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang dilandasi sebuah keyakinan yang sangat mengakar dalam lubuk sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya Al-Qur’an lah satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

6.      Kitab Ilmu Pengetahuan
Begitu banyak ayat Al-Qur;an yang berbicara tentang ilmu pengetahuan ( Kitabul Ilmi). Bahkan wahyu pertama yang turun di Gua Hiro pada tahun 610 M adalah ayat ilmu pengetahuan, di awali dengan kata kerja perintah “Bacalah”dan membaca adalah kunci ilmu. Dalam ayat-ayat yang lain Allah menjelaskan tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan modern yang baru dapat dibuktikan oleh manusia 1 milenium (1000 tahun) berikutnya.
Seperti dalam Al Qur’an surat Al Alaq : 1-5.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Al Qur’an sebagai kalamullah mempunyai fungsi dan kedudukan di muka bumi. Fungsi tersebut antara lain sebagai mukjizat Rasulullah, sebagai pedoman hidup bagi kaum muslim dan sebagai penyempurna kitab Allah sebelumnya yang bernilai abadi sebagai pembeda (Furqan), pemberi peringatan, kabar gembira dan pengobat ( Asy sifa).
Dan kedudukan Al Qur’an sendiri sebagai berita dan kabar ( Kitabul Naba wal akhbar), Kitabul Hukmi wa syariat ( Kitab Hukum Syariah), Kitabul Jihad, Kitabul Tarbiyah, Minhajul Hayah (Pedoman Hidup), Kitabul Ilmi ( Kitab ilmu Pengetahuan).

B.     Saran
Saran- saran yang disampaikan dalam makalah tentang Fungsi dan Kedudukan Al Qur’an tersebut di harapkan agar para khalifah dimuka bumi mampu memahami secara terperinci sehingga dapat mengamalkan dan menerapkan dalam kehidupan.







DAFTAR PUSTAKA

Masyhur, Kahar, Pokok-Pokok  Ulumul Qur’an, Jakarta:Rineka Cipta,1992
Munawir, Fajrul,dkk, Al Qur’an,Yogyakarta:Pokja Akademik,2005
Zuhdi, Masjfuk, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya: CV.Karya Abditama,1993





[1] Kahar Mansyur, Pokok- Pokok Ulumul Qur’an,( Jakarta; Rineka Cipta,1992), hlm.12-13.
[2] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an,( Surabaya; Cv.Karya Abditama,1993),hlm.21-22.
[3] Fajrul Munawir,dkk, Al Qur’an,( Yogyakarta;Pokja Akademik, 2005),hlm.109-110.