FUNGSI DAN KEDUDUKAN AL QUR’AN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Al Qur’an yang
diampu oleh ibu Rohinah

Disusun Oleh :
Iqbal Syafri 12410125
Faqih Utsman 12410126
Nur Afidah 12410131
Erliana Ceti Dwijayanti 12410092
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Fungsi dan kedudukan AlQur’an dalam Islam
guna memenuhi mata kuliah Al Qur’an.
Melihat berbagai macam cabang ilmu Al Qur’an, kami ingin
menganalisis permasalahan yang menyangkut fungsi dan kedudukan Al Qur’an.
Sehingga kami harapkan makalah ini dapat membantu para pembaca dalam belajar
memahami dan menerapkan fungsi dan kedudukan Al Qur’an dan diterapkan pada
kehidupan.
Akhir kata , tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali Allah SWT.
Tugas karya tulis ini pun diakui masih banyak kekurangan.Akan tetapi kekurangan
yang ada tidak hadir untuk dicerca melainkan dicari bagaimana proses
penyempurnaannya.Sehubungan dengan hal itu tegur sapa, kritik saran membangun
dari segenap pembaca, akan senantiasa kami terima dengan hati yang terbuka.Dan
semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya.
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb
Yogyakarta,
26 November 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Al Qur’an diturunkan oleh Allah
kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril yang tertulis dalam
mushaf, dinukilkan kepada kita secara mutawatir, tidak hanya turun sebagai
kitab yang dimulai dari surat Al Fatihah dan di akhiri dengan surat An nas.Dan tidak
hanya membaca Al Qur’an bernilai ibadah. Tetapi Al Qur’an diturunkan di muka
bumi mempunyai fungsi dan kedudukan.
Diharapkan dengan adanya makalah
tentang Fungsi dan Kedudukan Al Qur’an ini, mampu menjadi sarana penambah ilmu
dalam mengetahui Fungsi dan kedudukan Al Qur’an , dan mampu mengamalkan dalam
kehidupan sehari – hari.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
fungsi Al Qur’an ?
2.
Bagaimana
kedudukan Al Qur’an ?
C.
Tujuan
1.
Mendeskripsikan
tentang fungsi Al Qur’an.
2.
Mendeskripsikan
tentang kedudukan Al Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fungsi Al Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi
Rasulullah Muhammad saw sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim dan sebagai
korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya, dan
bernilai abadi, sebagai pembeda (furqan), pemberi peringatan, kabar gembira dan
pengobat.
Diantara fungsi Al Qur’an yang terpenting adalah:[1]
1. Sebagai mukjizat
Mukjizat ialah suatu kejadian luar biasa dan tidak
mustahil, yang terjadi pada rosul Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa, beliau
benar Rosul-Nya dan dengan izin allah swt. Hal itu di perlukan, karena setiap
rosul allah mempunyai mukjizat dan di butuhkan oleh kaumnya.
Umpamanya permintaa raja Fir’aun
Mesir kepada rosul musa kalimulloh. Dalam (surat Al-a’raaf:106).
Demikian pula dalam surat Assyu’araak: 30-31 serta surat Ibrahim:
Alquran ialah mukjizat rosul SAW
ang masih ada sampai kini dn seterusnya. Di antara keistimewaannya adalah:
a. Keindahan kalimat dan isinya tidak dapat bisa ditiru oleh sastrawan arab manapun,
apalagi oleh non arab sampai sekarang. Memang ada orang orientalis barat yang
mencela susunan ayat-ayat dan letak kalimatnya, tapi mereka dinilai orang arab
tidak menguasai bahasa arab.
Diantara orang arab yang mencoba keindahan ayat-ayat alquran ialah
1). Surat Al-furqon :53-54: dia lah yang mencampurkan air dua laut, ini
berair tawar dan segar dan itu asin dan pahit, dia jadikan antara keduanya
dinding dan batas yang menghalangi bercampur.
Dialah yang menciptkan manusia dan air. Di jadikannya berketurunan dan
beripar-bian. Ayat ini menceritakan kemampuan allah swt merubah air jadi
tulang, daging, rambut, dan lain, sehingga berkembang baik.
2). Dalam surat hamin sajadah : 9-12 Allah menerangkan penciptaan bumi dan
tujuh langit: apakah kamu benar-benar kafir kepada pencipta bumi dalam dua
putaran dan kamu jadikan baginya sekutu. Itulah yang menyusun semua alam. Dia
jadikan baginya sekutu. Itulah yang menyusun semua alam. Atasnya, dia berkahi
yang ada padanya, dia ukurkan makanannya dalam empat hari, sesuai bagi semua yang
membutuhkannya. Sesudah itu Dia jadikan langit, ia merupakan asap. Lalu Dia
perintahkan atasnya dan bagi bumi, “hendaklah kamu patuh, mau atau tidak mau”
keduanya menjawab,”kami datang sebagai orang yang patuh”. Lalu di ciptakannya tujuh
langit dalam dua putaran. Dia perintahkan pada tiap langit itu urusannya. Kami
hiasi langit dunia dengan lampu-lampu dan di pelihara. Itulah ketentuan Allah
yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.Ayat-ayat ini menceritakan bagaimana
terjadinya bumi dan langit dan semua yang berkaitan dengannya, karena murah dan
kasih sayangnya Allah kepada manusia dengan perantaraan wahyu-Nya.
b. Alquran menghadang siapa yang mengatakan, bahwa ia buatan Rasulullah SAW
dalam beberapa ayatnya, antara lain dalam :
Surat Albaqarah : 23-24 : andaikata kamu agu-ragu mengenai sebagian yang
telah kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka kemukakanlah agar satu
surat yang menyerupainya! Ajaklah semua tokoh-tokoh kamu, selain Allah itu,
andaikata kamu memang orang-orang yang
benar! Bila kamu tidak dapat melakukannya, maka peliharalah dirimu dari neraka
yang kayu apinya ialah manusia dan batu berhala. Ia di sediakan bagi
orang-orang kafr”.
c. Hendaknya kekayaan dunia di gunakan pula untuk keselamatan akhirat, yaitu
surat al-qashash :77,
Yang artinya :
Carilah dengan apa yang diberikan allah kepada kamu, untuk hari akhirat dan
jangan melupakan nasib kamu di dunia, serta berbuat baiklah, sebagaimana allah
telah berbuat baik kepada kamu! Jangan kamu menimbulkan kerusakan di bumi!
Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
2.
Sebagai
sumber segala macam aturan tentang hukum, sosial, ekonomi, kebudayaan,
pendidikan, moral dan sebagainya, yang harus dijadikan “way of life” bagi
seluruh umat manusia untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
(perhatikan Surat Al Ahzab:36).
3.
Sebagai hakim yang diberi wewenang oleh Allah
SWT memberikan keputusan terakhir mengenai beberapa masalah yang
diperselisihkan dikalangan pemimpin-pemimpin agama dari bermacam-macam agama
dan sekaligus sebagai korektor yang mengoreksi
kepercayaan-kepercayaan/pandangan-pandangan/anggapan anggapan yang salah
dikalangan umat beragama, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang salah, yang
terdapat dalam Byble atau kitab lain yang dipandang suci oleh para pemeluknya.
Menurut pandangan Islam bahwa Nabi
dan Rosul adalah maksum, artinya mereka pasti terhindar dari melakukan
perbuatan yang hina dan tercela seperti berdusta, berzina dan menyembah
berhala. (perhatikan surat An Nahl:65-65)
4.
Sebagai
pengukuh (penguat) yang mengukuhkan dan menguatkan kebenaran keberadaan para
Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Hanya saja ajaran-ajaran para nabi
sebelum Nabi Muhammad SAW beserta kitab-kitab sucinya, sudah tidak orisinal
lagi, sebab tidak sedikit yang telah diubah oleh para pemimpinya. (perhatikan
surat Al Maidah:48; An Nisa:45).[2]
Ada juga Al Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah di dalamnya
bukan tanpa punya tujuan dan fungsi. Adapun tujuan kisah dan fungsi dalam Al
Qur’an antara lain adalah:[3]
a.
Untuk
menunjukkan bukti kerosulan nabi Muhammad SAW. Sebab beliau meski tidak pernah
belajar tentang sejarah umat-umat dulu, tapi beliau dapat tau tentang kisah
tersebut. Semua itu tidak lain belajar dariwahyu Allah SWT
b.
Untuk dijadikan Uswah Khasanah, suri tauladan
bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para nabi dan
orang-orang salih yang disebutkan dalam Al Qur’an.
c.
Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad dan
umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin
tentang datangnya pertolongan Allah SWT dan hancurnya kebatilan (Q.S. Hud: 120).
d.
Mengungkap kebohongan ahli Al Kitab yang telah
menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni,
e.
Untuk menarik perhatian para pendengar dan
menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan kisah.
f.
Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah
SWT, yaitu bahwa semua ajaran para rasul intinya adalah Tauhid.
B.
Kedudukan Al Qur’an
Seperti telah kita ketahui bahwa apapun yang di
kerjakan, di perintah maupun yang dilarang Allah pasti memiliki maksud dan
tujuan. Begitu pula ketika Allah menurunkan Al-qur’an. Al-Qur’an diturunkan
sebagai :
1. Kitab Berita dan khabar
Sebagai kitab berita dan khabar Al-Qur’an banyak berbicara tentang
orang-orang terdahulu, baik yang shalih maupun yang thalih. Al-Qur’an berbicara
tentang perjuangan para Nabi dan pertolongan Allah atas mereka, agar umat ini
mau mengikuti perjuangan mereka. Dan juga menceritakan tentang orang-orang
durhaka dan akibat buruk dari kedurhakan mereka.
Al-qur’an bercerita tentang fir’aun dan akibat kekufurannya yaitu di
binasakan dan di tenggelamkan di laut merah beserta bala tentaranya. Al-Qur’an
juga bercerita tentang Qarun dan Kebakhilannya hingga Allah tenggelamkan diri
dan hartanya kedalam bumi, dan masih banyak contoh lainnya.
2. Kitab Hukum dan Perundang-undangan
Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Qur’an, memuat hukum-hukum dan
undang-undang untuk di taati.
Baik hukum amaliah
seperti :
a. Hukum Ibadah
yaitu hukum yang
mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya (hablum minallah, baik
ibadah mahdhoh (ibadah yang disyari’atkan dan telah ditetapkan tata
caranya oleh Nabi seperti shalat, puasa, haji, dll.) maupun ibadah ghoiru
mahdhoh (ibadah secara umum).
b. Hukum Mu’amalat
Yaitu hukum dan perundang-undangan yang mengatur hubungan antara manusia
denngan manusia lainnya (hablum minannas), Hukum mualamat terbagi kepada
:
1. Hukum Ahwal Syaksiyah
Yaitu hukum yang sangat
terkait erat dengan pribadi setiap individu muslim sejak di lahirkan hingga
wafatnya, seperti nikah, thalaq dll.
2. Hukum Mu’amalah madaniyah
Yaitu hukum-hukum jual
beli, sewa menyewa dll.
3. Hukum acara
4. Hukum Internasiona
5. Hukum Ekonomi/keuangan negara
c. Hukum Hudud & Jinayah (pidana)
Yaitu hukum yang di
syari’atkan dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan.
3. Kitab Jihad
Secara bahasa jihad artinya bersungguh-sungguh. Sedangkan dalam pengertian
syari’at Islam jihad adalah bersungguh-sungguh dalam menegakan kalimat-kalimat
Allah dan menghilangkan fitnah terhadap kaummuslimin. Jihad adalah puncak amal
islami seorang muslim, setiap muslim memiliki kewajiban untuk berjihad.
Said Hawa dalam bukunya
Al-Islam, mengklasifikasi jihad menjadi beberapa macam, yaitu :
1. Jihad Nafsi /jihad Qital (perang)
Jihad nafsi (jiwa) atau
jihad qital (perang) adalah bersungguh-sungguh dalam menegakan kalimat Allah di
muka bumi dengan pertaruhan nyawa. Jihad jenis inilah yang nilai pahalanya
paling tinggi disisi Allah, karena siapapun yang gugur akan mendapat gelar syahid,
gelarnya para penghuni syurga tertinggi. Syahid pula yang menjadi cita-cita
tertinggi kaum muslimin dalam berjihad. Para syuhada adalah mereka yang tetap
hidup walau jasadnya sudah berkalang tanah.
2. Jihad Lisani
Yaitu menegakan agama Allah dengan nasehat-nasehat yang baik. Rasulullah
SAW. Bersabda
الدين النصيحة
Artinya “ Agama itu
adalah nasihat”
3. Jihad Maal
Yaitu berjihad dengan cara menginfaqan harta demi kemenangan jihad. Hal ini
pernah di lakukan oleh para sahabat mulia, Abu Bakar, Utsman, Abdur Rahman bin
Auf, yang menginfakkan begitu banyak hartanya untuk memenangkan jihad (perang)
di jalan Allah.
4. Jihad dengan kekuasaan
Jihad dengan kekuasaan/kekuatan sangat mungkin di lakukan oleh mereka yang
memiliki otoritas/kekuasaan dalam msyarakat. Seorang ayah wajib berjihad untuk
mengislamikan keluarganya, karena ia adalah pemimpin di keluarga. Dan seorang
presiden harusnya bertanggung jawa terhadap baik-buruk rakyatnya.
Rasulullah SAW.
bersabda : “ Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawabannya”.
5. Jihad siyasi (politik)
Jihad siyasi adalah jihad yang mungkin dilakukan oleh para anggota dewan
baik DPRD maupaun DPR. Jihad yang mereka lakukan adalah membuat undang-undang
yang sejalan dengan hukum Allah SWT. Undang-undang yang memudahkan umat Islam
melakukan kegiatan-kegiatan keislaman tanpa adanya rasa takut karena
intimidasi, terror dan lainnya.
6. Jihad Tarbawi (pendidikan)
Jihad tarbawi adalah
jihad yang diakukan dengan pendidikan dan da’wah islam.
4. Kitab Tarbiyah
Tarbiyah artinya pendidikan, dan manusia adalah makhluk “paedogogis” yaitu
makhluk yang bisa dididik dan bisa mendidik. Dan pendidikan yang benar adalah
pendidikan yang dijalankan Rasulullah yang berpedoman pada Al-Qur’an.
5. Kitab pedoman hidup
Sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada manusia diturunkalah Al-Qur’an
sebagai pedoman dan peta untuk perjalanan hidupnya di dunia, jika ia mengikuti
petunjuk-petunjuk Al-Qur’an maka ia tak akan pernah tersesat seperti sabda Nabi
Muhammad SAW :
Sesungguhnya Al-Qur'an
ini memberi petunjuk pada jalan yang amat lurus. (Al-Isrâ (17) ayat 9.
Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat mengeluarkan umat manusia dari
kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi tidak bermoral menjadi memiliki
moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah membuktikan hal ini terjadi pada
sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14) :
“Bahwa sebuah generasi
telah terlahir dari da’wah –yaitu generasi sahabat –yang memiliki keistimewaan
tersendiri dalam sejarah umat Islam, bahkan dalam sejarah umat manusia secara
keseluruhan. Generasi seperti ini tidak muncul kedua kalinya ke atas dunia ini
sebagaimana mereka… Meskipun tidak disangkal adanya beberapa individu yang
dapat menyamai mereka, namun tidak sama sekali sejumlah besar sebagaimana
sahabat dalam satu kurun waktu tertentu, sebagaiamana yang terjadi pada periode
awal dari kehidupan da’wah ini…”
Cukuplah kesaksian Rasulullah SAW menjadi bukti kemulyaan mereka, manakala
beliau mengatakan dalam sebuah haditsnya:
“Dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah SAW
bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah generasi yang ada pada masaku (para
sahabat) , kemudian generasi yang berikutnya (tabi’in), kemudian generasi yang
berikutnya lagi (atba’ut tabiin). (HR. Bukhari)”
Imam Nawawi secara jelas mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan ‘generasi
pada masaku’ adalah
sahabat Rasulullah SAW. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga mengemukakan
mengenai keutamaan sahabat:
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian
mencela sahabat-sahabatku.Karena sekiranya salah seorang diantara kalian
menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya ia tidak akan dapat menyamai
keimanan mereka, bahkan menyamai setengahnya pun tidak. (HR. Bukhari).
Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat tiga hal yang melatar
belakangi para sahabat sehingga mereka dapat menjadi khairul qurun, yang
tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya adalah sebagai berikut: pertama,
karena mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan,
guna menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai
sumber lainnya. Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki
tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya.
Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh
Allah dalam kehidupan mereka. Ketiga, mereka membuang jauh-jauh
segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang
bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan
masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.
Dengan ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul sebagai generasi terindah
yang pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan karena ‘ketotalitasan’ mereka
ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang dilandasi sebuah keyakinan yang
sangat mengakar dalam lubuk sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya
Al-Qur’an lah satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada
kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.
6. Kitab Ilmu Pengetahuan
Begitu banyak ayat Al-Qur;an yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (
Kitabul Ilmi). Bahkan wahyu pertama yang turun di Gua Hiro pada tahun 610 M
adalah ayat ilmu pengetahuan, di awali dengan kata kerja
perintah “Bacalah”dan membaca adalah kunci ilmu. Dalam ayat-ayat yang lain
Allah menjelaskan tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan modern yang baru dapat
dibuktikan oleh manusia 1 milenium (1000 tahun) berikutnya.
Seperti dalam Al Qur’an
surat Al Alaq : 1-5.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al Qur’an sebagai kalamullah mempunyai fungsi dan kedudukan di muka bumi.
Fungsi tersebut antara lain sebagai mukjizat Rasulullah, sebagai pedoman hidup
bagi kaum muslim dan sebagai penyempurna kitab Allah sebelumnya yang bernilai
abadi sebagai pembeda (Furqan), pemberi peringatan, kabar gembira dan pengobat
( Asy sifa).
Dan kedudukan Al Qur’an sendiri sebagai berita dan kabar ( Kitabul Naba wal
akhbar), Kitabul Hukmi wa syariat ( Kitab Hukum Syariah), Kitabul Jihad,
Kitabul Tarbiyah, Minhajul Hayah (Pedoman Hidup), Kitabul Ilmi ( Kitab ilmu
Pengetahuan).
B. Saran
Saran- saran yang
disampaikan dalam makalah tentang Fungsi dan Kedudukan Al Qur’an tersebut di
harapkan agar para khalifah dimuka bumi mampu memahami secara terperinci
sehingga dapat mengamalkan dan menerapkan dalam kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Masyhur, Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Qur’an, Jakarta:Rineka Cipta,1992
Munawir, Fajrul,dkk, Al Qur’an,Yogyakarta:Pokja
Akademik,2005
Zuhdi, Masjfuk, Pengantar Ulumul Qur’an,
Surabaya: CV.Karya Abditama,1993
Tidak ada komentar:
Posting Komentar